dialog sepasang kekasih yang akan menikah

wanita : Ketika masa-masa ini akan kita akhiri, seketika terbersit rasa
ketika
dulu kau bilang “aku ingin kau berjanji akan bersamaku selalu”
laki2 : Memang dan kau masih ingat janjiku itu.
setelah lebih dekat denganmu memang aku merasa tak ada kearaguan yang
perlu ku khawatirkan sejak itu hingga sampai saat ini.
wanita : Dan sekarang aku siap untuk menerpa prahara bersamamu, laki-laki yang
dulu adalah teman baikku.
kini dia bersamaku dan akan mendampingiku disisa-sisa hidupku.
laki2 : Kalau aku boleh bicara sekarang, aku hanya ingin memiliki wanita
sederhana tapi milikku sendiri.
dan dia sekarang ada bersamaku.
wanita : betapa kau ku anggap darah dalam tubuh ini yang menyalurkan butir-butir
cinta keseluruh tubuh untuk menjadikanku tetap hidup didunia bersamamu.
cowo : Oooo… aku tau itu hanya sekadar rayuanmu. setiap manusia pasti akan
memahami narasi yang kau lontarkan kepadaku.
wanita: sungguh kau tidak mengerti, ribuan purnama kurangkai kata untuk
kuucapkan malam ini, malah kau bersikap apatis terhadap ucapanku.
sepertinya kau salah paham terhadap pernyataanku.
cowo: aku merasa kau salah menafsirkan ucapaku dinda, pikiranmu terhadap diriku
terlalu menohok, sehingga otakmu tidak mampu menelaah perkataan baikku.
wanita :dan ada yang kau perlu tau, tuhan menjadikan kita sebagai manusia adalah
untuk tempat letaknya kesalahan. jadi sepertinya kau lebih salah jika
menganggapku salah
cowo : memang benar kata orang-orang di luar sana, wanita memang tak pernah
salah dihadapan laki-laki

Iklan

Mawar yang kubawa dari jogja

waktu itu keretaku pukul 13.00.
semua kekhawatiran ada di kedua kakiku yang kecil.
dan mawarmu juga tampak haus.
sampai dijakarta aku tak langsung bertemu denganmu.
aku suka kopi dan masih jalan-jalan.
kau tau sayang, mawar ini hampir saja hitam.
3 hari dia ada dalam tas gendongku.
teriak minta tolong di tengah keramaian kota.
kacau sekali orang-orang mengira aku tak punya kekasih.
aku ingin sekali berteriak juga.
tapi aku cemas kali ini, lampu bus ini terlalu pijar menyetubuhiku.
dan satu hal lagi menghalangiku.
aku tidak suka teriakan.
aku bisikan padamu sekarang pelan-pelan.
mawar yang kau terima kemarin ku bawa dari jogja.

aku sedang sendiri, bicara sendiri, merayakan malam juga sendiri.
aku tak mau melibatkan juga kamu.
siapapun, yang datang ku usir.
sendiri aku bicara pada rambut rontokku, aku sudah lama suka begini.
memotong kuku jariku lalu menghitung pecahannya.
aku sudah lama bahagia begini.
tak perlu ada yang datang.
kesukaanku sekarang memaknai malam dengan tubuh dan pikiranku sendiri.
mencari bunga bunga yang mau kuajak bicara, berdialog omong kosong.
tapi memang orang-orang disana jahat sekali.
masih saja iri dengan kesendirianku.
mereka bilang aku gila, bila benar aku gila.
maka aku bertambah bahagia.

seberapa bahagia kamu hari ini.
setiap pagi aku menuliskan puisi untukmu.
terlelap tanpa suaramu lagi, aku merasa gelap sekarang.
datar, abu-abu tanpa harum nafasmu.
aku sekarang merasa seperti mawar.
yang layu setelah beberapa hari di lepas dari akarnya.
tiada daya, dan penuh cerita.
sementara waktu terus berpindah, dua tahun terasa begitu panjang.
aku masih ingat, kamu suka sekali dengan dompet kulit coklatmu itu.
sampai-sampai kau bermimpi katamu, dompetmu akan meninggalkanmu.
bagaimana bisa ia berjalan sendiri.
kamu sangat lucu, dan selalu menghibur ku.
apa kabarmu sekarang,
setiap malam aku sering sekali merindukan kita.
duka kita, bahagia kita, suara mu yang masih terngiang.
sering sekali datang bersamaan,  ketika aku menarik selimutku.
aku selalu menangis ketika mereka datang.
aku masih tak menyangka,
apa kita sudah selesai.
apa kamu lelah.
apa cinta memiliki tepi.
apa sayang memiliki masa.
mungkin nanti aku bisa ikhlas dengan semua ini, tapi aku masih belum tau berapa lama luka lebam ini akan kering.
aku terlihat lemah sekali ya.
memang aku wanita melankolis sekali, atau mungkin cinta begitu kuat jadi aku terlihat lemah.
kita memang sudah berakhir, sejak dua tahun lalu.
tapi entah mengapa aku masih bahagia mengingat itu semua.

aku sudah tau, tapi mengapa harus.
ini bukan keterpaksaan, tapi kesengajaanmu.
kau tahu, tak ada lagi rasanya nyawa yang waras ditubuh ini.
lukaku yang basah kau koyak, siapa yang tahan.
baru kemarin kau bilang akan abadi, ketika kita duduk di jembatan besi itu.
kepalaku dipundakmu, aku luluh dan menjadi gila.
sambil kau mengelus-ngelus tanganku.
katamu kita akan menjadi satu.
tapi nyatanya kau raib dengan gontai.
dan sekarang aku memang gila.
setelah kau menghabiskan kopimu.
aku mau membunuhmu. kau setuju.
kumulai dari lehermu dengan belati, dan setelah mati
kukumpulkan darahmu dalam gelas.
kuteguk.
nikmat sekali.
apa aku kejam, apa sadis katamu.
cobalah kau mengalir kehatiku sekarang.
rasakan, resapi rasa sakit itu.
ini perangkat lunak wanita yang kau hancurkan.
dengan sadar kau pergi, saat hujan seperti ini.
rencanamu sungguh elegan sekali, agar aku bisa mengenangmu lagi ketika hujan. begitukan!
aku sudah tau, dan sudah, aku lelah, aku lunglai, aku akan istirahat, dan akan membunuh diriku sendiri.

apa yang ingin kita kenang malam yang hujan ini.
aku sedang bicara dengan tubuh ini.
berdiskusi untuk kemauan masing-masing.
kau mau datang minum kopi atau teh dengan tubuhku ini.
jangan khawatir aku takkan mengajakmu pulang.
apalagi menyentuh lukamu yang basah.
aku cukup mengerti untuk semua itu.
kita bayangkan saja kau yang menusuk belati pada lukaku agar indah untukmu.
jadi bagaimana kau menyambut undanganku.
berjalanlah dengan menghitung langkah kakimu.
kalkulasi mu cukup bagus untuk sesuatu sedetail itu.
kau bisa baca tulisan tarik dari luar pintu rumahku.
lalu kau boleh keluar.
lalu bicaralah dengan hujan yang tak mau berterus terang seperti dirimu padaku.